Selamat tinggal dendam (& orang yg membuatku dendam)

Aku memendam kekesalan dan dendam sama seseorang krn mulutnya yg usil aja ngomentarin ini itu tentang anakku. Mungkin bagi dia, komentarnya biasa aja. Tp bagiku, itu menyakitkan dan yah aku mendendam.

Gak sehat banget perasaan ini. Sungguh merusak diriku dr dalam.

Maunya aku labrak aja orangnya klo besok-besok berani comel lg komentarin anak-anak aku. Tp syukurnya aku dinasehati sama temenku. Dan baca bbrp tulisan. Intinya sih: dahlah biarin aja.

Dan untungnya blm ada kesempatan melabrak orangnya jd aku masih bs mikir lagi. Ya memang baiknya biarin ajalah dia mau komen apa di masa lalu. Yg penting jangan kasih panggung & kesempatan di masa depan untuk dia bisa cari cacat & salahnya anak-anakku untuk dikomentari lagi.

Yg lalu udah maafin aja, dendamnya lepasin aja. Yg kedepannya, jaga jarak dan batasi komunikasi. Bukan kita mau munafik apalagi sampe mutus hubungan. But please not normalizing comel sama hidup orang and just normalize jaga jarak sama si mulut comel.

Klo disapa ya aku nyapa balik dgn sopan. Nggak disapa, tp klo bertemu offline ya aku nyapa duluan sebagai yg lebih muda (kan unggah-ungguhnya begitu). Tp klo kudu ngobrol? NO NO NO. Aku lebih baik menghindar drpd nanti timbul bahan dendam lainnya, hehehe….

Munafik? Nggak sih menurutku itu bukan perilaku munafik. Tp klo buatku itu namanya orang dewasa yg belajar sopan-santun, aja.

Thanks for your comment(s). Have a nice day!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s