Akhirnya kumerasakan

Emang bener ya, kita tuh nggak akan bisa bener-bener mengerti sesuatu hal; klo blm merasakannya sendiri. Merasakan apa? Ya barang yg keliatan, misal makanan. Sampai ke hal-hal abstrak macam emosi (marah, senang, cinta) atau perasaan menginginkan sesuatu.

Selama ini aku gak habis pikir dengan orang tua yg mengajak anak bayi atau toddlernya, nonton bioskop. Apalagi yg filmnya bukan untuk konsumsi anak-anak. Alias yg mau nonton itu ya, emak-bapaknya.

Aku mikir’e gini: “Sebegitu pentingnya kah nonton film tertentu, sampe mengorbankan kenyamanan anak…. kenyamanan penonton lain bahkan kenyamanan diri sendiri?”

Yha aku bingung ajha

Selama ini mungkin aku blm ada film yg bs menarik minatku sampe segitunya. I mean, aku suka banget ama X-Men, Transformers. Tp klo kudu nonton sambil bawa anak? Kayaknya nggak deh.

Lagian gak mungkin boleh sama Abi. Lawong aku klo mau ngehairdryer rambut aja, kudu ngungsi ke kamar sebelah spy anak-anak gak terganggu dengung berisiknya. Mau ngevakum kamar juga kudu pke setelan yg low. Apalagi nonton bioskop dengan suara yg segitu kencengnya. Mana mungkeeeeen!

Sampai akhirnya aku ga sengaja liat trailer film Disas & Nicsap yg terbaru. Dan betapa menawan hatinya si mbak Hanna Al Rashid dan mas Eko eh Oka Antara. Trs trailernya ditutup dengan kalimat yg menggelitik plus makin bikin pengen nonton sampe sekelebat muncul pikiran: “Bawa aja dah M nonton bioskop,” hahaha.

“Ada aaaaapa ya sebenernya?”

Jadi demikianlah keinginanku nonton Aruna dan Lidahnya. Biarlah kubersabar sampai film itu muncul di televisi sahaja 😉

Om makan pake tangan manis om….

Last but not least:

#BHAIQUELAHHH
Advertisements

23 Replies to “Akhirnya kumerasakan”

  1. Hahaha. Aku juga belakangan berencana nonton, bareng peer group. Tapi….. belum pernah terlaksana, sudah sejak lama berencana, akhirnya gagal juga. Kadang pengen juga bawa anak, karena pengen dia liat serunya nonton di sana. Tapi ku terlalu takut ambil risiko lah, bhay 😀

    Like

  2. Sound di bioskop itu tidak dipersiapkan untuk bayi (kalau ga salah ingat, batita). Jadi memang sangat tidak bijaksana kalau ada orangtua yang membawa bayinya ke bioskop dengan alasan apapun. Belum lagi faktor mengganggu pengunjung yang lain. Di Belanda memang peraturannya ketat ttg membawa anak menonton. Kalau tidak sesuai usianya, tidak akan bisa masuk bahkan sampai diperiksa kartu identitasnya. Buat orangtua yang punya bayi, kalau mereka beneran pengen nonton biasanya gantian (kalau bayinya sudah bisa ditinggal). Kalau mau nonton bareng, ya nunggu anaknya sampai usia dua tahun nanti bayinya dititip ke tetangga atau oma opa atau nyewa jasa jaga anak.
    Akupun nunggu Aruna ini di YouTuba aja. Kecuali kalau mereka ada rencana promosi di sini.

    Like

  3. Iya ya gak tahu juga gya mbak. Tapi aku gak akan bawa anak-anak ke bioskop kalau filmnya belum cocok dengan umurnya. Ntar akunya yang susah menjelaskan ini dan itu yang gak boleh ditiru

    Like

    1. Hehe iya mbak. Ngejelasin ke anak2 repot juga. Kmrn ada yg nekad bawa anak kecil nonton Aruna. Pas adegan ngomongin kondom, anaknya tanya: “Kondom itu apa sih?” Wkwkwk emaknya bingung jelasinnya. Sukurin!

      Like

Thanks for your comment(s). Have a nice day!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s