Asbun bin Asmuni

Aduh aslik deh mau bikin judul aja bingung. Asbun = asal bunyi dan Asmuni = bahasa Jawa untuk Asbun = asal muni. Asal ngomong (atau komentar) gitulah kira-kira artinya.

Tulisan ini diketik gara-garanya lagi viral komentar seorang ibu yg merasa terganggu akan polah anak berkebutuhan khusus (ABK) yg dia temui di suatu tempat. Komentar si Ibu meuni kejam emg. Pantesan klo doi lalu dihujat manusia sejagad dunia maya.

Dan jujur pas ngeliat cuplikan video si ibu tsb meminta maaf, aku ketawa loh dalam hati πŸ™‚ Krn menurutku dia kok gak bs ya belajar dr banyak sekali pengalaman wanita lain yg komentar pedesnya udah viral duluan di dunia maya.

Itu track record saat menjadi viral, akan tersimpan selamanya lho di arsip dunia maya! Along with, of course, nama lengkap dan foto kita yg berhasil dicari & diviralkan oleh mereka yg sakit hati. Trs klo calon bos atau calon mertua kamu, suatu saat ngegoogling nama kamu & nemu semua track record tsb…., apa nggak berabe? Pasti ada efeknya lah ya, sedikit banyak.

Ntah contoh: itu mbak-mbak yg menghina ibu hamil di kendaraan umum (KRL). Atau ada mbak lain yg menghina kota Jogja.

Dikira klo komentar di lapak sendiri, status pribadi, trs ga bs viral dan jadi heboh? Lalu gak bisa jd bumerang untuk si komentator itu sendiri? Woh salah besar.

Itu si mbak yg menghina ibu hamil di KRL, dia posting komentarnya di status Path lho! Dimana Path ini cmiiw, kan socmed yg sangat private. Postingan di Path gak bs dilihat dr browser. Cm bs dilihat dr aplikasi dan oleh temanmu sendiri. Lumayan private dan jadinya bikin ‘terlena’ gitu kali ya? Dianggep aman, mau nytatus ato komen apa aja.

Gak taunya statusmu discreencap sama temenmu sendiri dan dibikin viral…. *aku cm bisa mesem nahan ngakak*

Tentu ini jg jd bahan introspeksi buatku sendiri krn sering jg berkomentar atau nulis apapun di dunia maya yg bernada keterlaluan atau sembarangan.

Apakah semua harus dikomentarin meski emg ngeganjel di hati? Apakah semua komentar harus dipajang di muka umum?

Lha jangankan punya opini atau uneg-uneg yg ditulis untuk dipajang di muka umum; klo aku komen jahat atau ngomel dalam hati aja, ntr pasti kena getahnya. Ya krn Alloh pasti tau apapun yg tersembunyi & klo Dia ga ridho dgn tingkah atau tutur kataku, ya pasti Dia tegur.

Jadi yah…. mari makin berhati-hati dalam berkomentar πŸ™‚ Jangan nunggu jadi viral baru menyesal.

Advertisements

15 thoughts on “Asbun bin Asmuni

  1. Kalo kata orang betawi : asal jeplak. Aku ‘kalo kumat’ suka keluar asal jeplaknya. Untung kumatnya liat tempat dan sikon. Trus gak di media sosial juga. Alih-alih komen di sosmed seleb atau siapalah. Seperti khas nya para netizen. Saya pilih komen di sosmed keluarga dan teman baik aja.

    Like

    1. Hihihi sama. Aku jg klo udah gatel bgt pgn komplen ttg sesuatu, curhatnya ke ada 1 whatsapp grup yg isinya cm ber-4. Tp sdh ada semacam saling pengertian klo ada yg lg ngomel, lainnya kudu kasih panggung & suport, hahaha.

      Like

Thanks for your comment(s). Have a nice day!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s