Ramai sepi ini milik bersama

Assalamualaikum warrohmatulloh wabarokatuh.

Hari ini aku mo cerita ttg sebuah lagu. Salah satu dari 2 lagu yg di aku, surprisingly bagus buat jd salah satu teman melampiaskan beban. Dengerin lagu ini enak, buat nangis inget dosa, hahaha.

Lagu gini kok yo alhamdulillah bisa buat inget Alloh, inget dosa, inget tobat, inget doa. Nuangis ambyar pokoe Rek.

Aku alhamdulillah sedang practicing self care & self love (whatever you call it). Salah satunya adalah dgn ngeluarin uneg-uneg negatif secara teratur, selama masih di batasan yg Alloh semoga meridhoi.

Klo mau tau lagunya apa, bisa dengerin di YouTube ya. Lagunya IM3 yg RAMAI SEPI BERSAMA. Klo ditonton video iklan aslinya, (yg official) niscaya makin ambyar.

Surprise bgt aku, ada lagu yg bukan lagu Islami tp memberikan efek yg sebegitu besar.

Nangis, curhat ke Alloh, curhat ke orang yg tepat, semua gak papa Rek. Hempaskaaaan! Di lain sisi, gak harus orang tahu klo memang kita gak mau berbagi cerita ttg sebagian atau semua hal. Asalkan jangan lupa, jangan merasa sendiri krn Alloh selalu ada.

Corona anxiety ataupun kegelisahan apapun, semua butuh penyaluran lho! Termasuk di dalamnya shopping atau liat-liat doang, wkwkwkwk.

Lebaran 2020

Assalamualaikum warrohmatulloh wabarokatuh. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga amal ibadah kita, diterima oleh-NYA. Dan mohon dimaafkan kesalahan postingan, komentar, status atau chat ku ya, selama berinteraksi dengan kalian semua.

Lebaran tahun ini, sungguh spesial bagi keluarga kami dan juga banyak keluarga lain di seluruh dunia.

Sampek keluar pengumuman dan woro-woro di WhatsApp Status seperti diatas, bahkan sejak dari bbrp hari sebelum 1 Syawal.

Sebagai ikhtiar kami untuk menjaga seisi rumah, utamanya Nenek yg sudah sepuh banget. Semoga usaha kita untuk tidak tertular Corona, diridhoi Alloh ya, aamiin.

Hutang puasa yang belum terbayar

Assalamualaikum warrohmatulloh wabarokatuh. Weh Lebarane jek sesuk Rek tibakno, wkwk. Ta’ pikir hari ini.

Okey.

Hari ini ndutyke mau ngomongin soal hutang puasa yg tak kunjung lunas. Sejujurnya, sisa hutang dari tahun sebelumnya itu masih cukup banyak yg belom kulunasi saat tiba Ramadhan tahun ini.

Alasannya sederhana: gak disiplin. Padahal klo selama setahun (katakanlah sejak tgl 5 Syawal tahun lalu), bisa menjadwalkan pembayaran hutang ini dengan baik dan disiplin, insyaalloh akan DIA beri kemudahan kok. Dalam setahun ya bakalan lunas.

Tapi nyatanya diri ini gak bs disiplin. Dan akhirnya memasuki Ramadhan ini masih dengan berhutang.

Dampaknya apa? Ya ini moga-moga bukan membuka aib ya; tp dampaknya ya adalah beruntunnya kejadian gak enak yg Alloh tegurkan ke aku selama bbrp bulan terakhir ini. Hmmm sepertinya kemungkinan besar, salah satunya ditegur krn gak disiplin membayar hutang puasa.

Tahun ini (Ramadhan), hutangku buanyak banget. Wes koyok wong meteng karo jektas lahiran, hehehe. Kayak orang lg hamil dan baru lahiran, gitulo Rek. Ya Rabb….. padahal gak lagi hamil lho.

Tapi gpp. Pasti semua ada hikmahnya. Bismillah, kali ini wes bertekad gak mau lalai lagi dalam menunaikan kewajiban membayar hutang. Pokoe kudu luweh disiplin, luweh pinter. Mosok urip meh 40 tahun yo gak pinter-pinter.

Doanya ya teman! 🙂


Baiklah, besok insyaalloh Lebaran, kita cerita laine lagi. Tetap di rumah jika memungkinkan, tetap sehat!

Mendistraksi diri dari olshop

Assalamualaikum warrohmatulloh wabarokatuh. Semoga teman-teman senantiasa diberi sakinah mutmainah olehNYA. Ini Jumat, jangan lupa Al Kahfi.

Anyway.

Salah satu alasan aku nggak jadi pensiun ngeblog, krn pengalaman mengajarkanku bahwa klo fokusku dengan handphone ini nggak aku pusatkan untuk menulis hal yg berguna (at least for me), maka aku bakalan fokus ke hal yg kurang berguna. Bahkan cenderung buang waktu sia-sia.

Gak bisa dipungkiri, yg namanya HP ini udah lengket sekali sama tangan. Berbagai aktivitas kukerjakan dr HP– baik yg manfaat maupun nggak.

Nah beberapa hari kemaren itu (Selasa-sampai Jumat pagi ini), tiap pagi (& siang) aku terjebak dalam kesia-sia’an browsing barang yg kurpen (kurang penting) yg pengen aku beli di salah satu marketplace.

Apakah itu barangnya? Asli wes pokoe gak penting. Yaitu casing HP, pemirsa! Mosok yo, aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk browsing casing HP baru buatku. Pas Ramadhan lo iki Rek. Sungguh sia-sia menurutku.

Jd awalnya kan aku selalu pake casing HP model flip yg kayak dompet. Tp setelah 2 tahun usianya ya jelek dan kotor juga.

Akhirnya sempet sehari HPku ini nggak pake casing blass, sama sekali.

Dimana menurut Abi (suamiku) ya itu bahaya klo gak pake casing sama sekali krn kuatir lgsg terbentur dgn lantai jika (naudzubillah min dzalik) gak sengaja jatoh. Meski bukan model flip tapi ya pakeklah. Kah ikhtiar menjaga keawetan HP kita.

Akhirnya Rabu itu beli di salah satu olshop di Surabaya, di daerah MERR situ. Sengaja diGojekin supaya tau kapan barang bakalan tiba di rumah; kan isok di track toh. Yowes akhire Rabu barangnya dateng, pake casing transparan deh, alhamdulillah anti slip dan gak licin.

Uwes sampek situ tok? Lho yo klo sampek sito tok ceritane, yo gak akan muncul postingan ini, Kisanak, wkwkwk. Masalahnya adalah, meski udah punya 1 casing HP, kok aku masih nyari lagi dan lagi. Kamis itu masih browsing.

Kanggo opo to mbak? HP mek siji kok casing ae butuh akeh? (Buat apa sih, wong HP cuma 1 ajakok– butuh casing more than 1). Yo punya 2 gak papa kali ya, buat cadangan.

Hmm memang aku nemu olshop (@ Jakarta) di marketplace yg jual casing lucu-lucu mek molasewuan (cuma Rp 15.000-an, ya sampe Rp 30.000 juga ada). Tapi bahannya gak tau deh, nempel debu apa nggak.

Tp aku terus aja browsing di toko itu, sampek berjam-jam. Padahal udah punya 1 yg dipake lho, yg alhamdulillah bagus, beli hari Rabu itu.

Kemudian teringat isi tausyiah salah satu Ustadz. Nggak aku tulis nama orangnya soale aku wedi (takut) keliru ngutip. Pokoe intine gini Rek:

Berlebihan itu BUKAN soal HARGA. Berlebihan itu soal JUMLAH. Klo harus beli barang yg mahal krn fungsi dll-nya kita perlukan (misal nih, beli smartwatch), ya beli lah. Punya 1 arloji…. atau 2 buat cadangan.

Sekali lg, berlebihan itu SOAL JUMLAH. Bukan HARGA. Misal lagi: Buat apa punya alas kaki sampe 10 pasang (meski sendal jepit murah sekalipun). Wong kaki cuma sepasang.

At least begitulah yg sekelumit aku dapatkan dr tausyiah beliau. Kesempurnaan hanya milik Alloh sementara saya tempatnya lupa.

Plus klo punya banyak barang, nanti hisabnya lama, tp ini pembahasan untuk lain waktu.

Eh, lain cerita dengan barang investasi ya Rek. Misal beli barang (in this case: arloji) krn investasi, misalnya. Bisa dijual lagi dan memang menguntungkan harga jual kembalinya. Kita beli, lets say Rp 10.000.000 dan setahun kemudian dijual lagi & laku Rp 12.500.000.

Yowes gitu aja curhatanku hari ini. Intinya sih, sbenernya, aku kembali nulis di blog ini krn usaha mendistraksi dr browsing dan belanja sing mboten-mboten (yg tyda-tyda). Wkwkkwkw. Pembahasane malah jadi sampek kesini. Gpp lah ya, sekalian nulis.

Oke deh gitu dulu aje. Atas salah kata, mohon maafnya.

Tetap di rumah jika memungkinkan, sebagai ikhtiar kita memutus penyebaran Corona. Insyaalloh dijaga olehNYA, tetap sehat kita semua.

ndutyke Reborn

Assalamualaikum warrohmatulloh wabarokatuh. Semoga teman-teman senantiasa dalam kondisi sehat. Rek, nanti malam kan malam Jumat. Sholawat dan Al Kahfi jgn pada lupa, okay mbakbeb?

Halo halo…. ku sedang berusaha menguatkan hati ini, untuk kembali menulis. Menghilangkan keraguan, menata niat, berharap semoga Alloh meridhoi apa yg aku bagi di blog ini.

Tulisanku yg dulu, jika ada yg tidak berkenan di hati teman sekalian, jika (naudzubillah min dzalik) Alloh ada yg kurang ridho, semoga diriku dimaafkan.

Anyway.

Sempat mau restart atau reborn blog ini, mulai dari nol…., tp sayang sekali dengan tulisan seputar Sydney dan Clodi yg sudah ditulis sejak 2014.

Jadilah aku reborn-reborn ae karepku dewe, wkwkwk…. (areke wes mulei iso ngguyu, gaesss).

Sejujurnya,

2 pekan terakhir ini sempet terpikir untuk menyelesaikan hobi ngeblogku ini. Krn sesuatu dan lain hal yg menggangguku. Tapi klo dipikir lagi, kok eman ya? Sayang, gitu.

Lha wong diriku juga masih butuh tempat untuk menyimpan pemikiran dan ceritaku. Pun alhamdulillah masih punya teman-teman yg kubaca ceritanya meski nggak selalu urun berkomentar (maaf yo Rek).

Jd alhamdulillah, at least sampai Mei ini, ndutyke masih ada semangat untuk nulis meski kedepannya lebih banyak pertimbangan dan seleksi– apa yg akan dibagi disini.

Kita tetap nulis, kita tetap berbagi, meski meh kabeh blogger wes pindahan nang Instagram, tp semoga blog masih ada pembaca dan penulisnya, aamiin ya Rabb.

Tetap sehat, tetap di rumah, makin banyak doa yo Rek!

Maafkan

Mbak Risda, Mbak Phebie dan Mbak Ami Jasmine, thanks sudah menyertakan nama saya sebagai penerima award.

Mohon maaf saya sedang ditegur oleh NYA dengan sakit lumayan parah (typhoid) sudah 10 hari; sehingga tidak memungkinkan untuk posting award tsb di blog ini.

Doakan saya lekas sembuh seperti sedia kala ya. Terima kasih.

(copas) We are not in the same boat

by Emilia Gunawan

WE ARE NOT IN THE SAME BOAT.

I heard that we are in the same boat.

But it’s not like that.

We are in the same storm, but not in the same boat.

Your ship can be shipwrecked and mine might not be.

Or vice versa.

For some, quarantine is optimal: a moment of reflection, of re-connection. Easy, in flip flops, with a whiskey or tea.

For others, this is a desperate crisis.

For others, it is facing loneliness.

For some, peace, rest time, vacation.

Yet for others, Torture: How am I going to pay my bills?

Some were concerned about a brand of chocolate for Easter (this year there were no rich chocolates).

Others were concerned about the bread for the weekend, or if the noodles would last for a few more days.

Some were in their “home office”.

Others are looking through trash to survive.

Some want to go back to work because they are running out of money.

Others want to kill those who break the quarantine.

Some need to break the quarantine to stand in line at the banks.

Others to escape.

Others criticize the government for the lines.

Some have experienced the near-death of the virus, some have already lost someone from it, some are not sure their loved ones are going to make it, and some don’t even believe this is a big deal.

Some of us who are well now may end up experiencing it, and some believe they are infallible and will be blown away if or when this hits someone they know

Some have faith in God and expect miracles during 2020.

Others say the worse is yet to come.

So, friends, we are not in the same boat.

We are going through a time when our perceptions and needs are completely different.

And each one will emerge, in his own way, from that storm.

Some with a tan from their pool. Others with scars on the soul (for invisible reasons).

It is very important to see beyond what is seen at first glance. Not just looking, more than looking, seeing.

See beyond the political party, beyond biases, beyond the nose on your face.

Do not underestimate the pain of others if you do not feel it.

Do not judge the good life of the other, do not condemn the bad life of the other.

Don’t be a judge.

Let us not judge the one who lacks, as well as the one who exceeds him.

We are on different ships looking to survive.

Let everyone navigate their route with respect, empathy and responsibility.